Tulisan dari ‘Lihat Thailand’ Kategori

Kasus Pemerintahan

 

Massa kaus merah pendukung mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra

[BANGKOK] Kelompok kaus merah yang anti pemerintah Thailand meminta International Criminal Court (ICC) atau pengadilan kriminal internasional untuk menginvestigasi kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan Pemerintahan Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva.

Petisi itu juga menyebutkan bahwa kepemimpinan politik dan militer negeri itu melakukan tindak kriminal dalam menghentikan aksi puluhan ribu massa penentang pemerintah selama dua bulan pada April dan Mei 2010 yang menewaskan 90 orang, mayoritas warga sipil.

Sebagian besar kelompok kaus merah itu adalah pendukung mantan Perdana Menteri Thailand yang tinggal di pengasingan Thaksin Shinawatra. Mereka menuduh pemerintah melakukan tindakan brutal, sebagaimana tertuang secara detail dalam tuntutan mereka yang dimuat di website pengacara Thaksin asal Kanada, Robert Amsterdam.

Robert mengatakan, kantornya terlibat dalam penyusunan laporan tersebut yang dibuat berdasarkan wawancara dengan puluhan saksi mata dan para korban di ICC minggu ini. Sementara Pemerintah Thailand mengaku mengetahui tuntutan tersebut tetapi yakin bahwa ICC tidak akan mempedulikannya.

“Saya sudah diberitahu oleh Menteri Luar Negeri tentang masalah ini,” kata Juru Bicara Pemerintah Panitan Wattanayagorn. “Tetapi setahu saya masalah ini tidak termasuk dalam yurisdiksi ICC,” lanjutnya.

Aksi yang melibatkan 100.000 ribu masa kaus merah pada April-Mei lalu menuntut diselenggarakan pemilu dipercepat untung mengganti Pemerintahan Abhisit. Selama dua bulan mereka bertahan dan melumpuhkan Kota Bangkok. Aksi massa itu akhirnya bubar dengan operasi militer hingga menewaskan 90 orang warga sipil.

Pemerintahan

Pemerintah Thailand mengatakan pemilihan umum akan berlangsung tanggal 23 Desember 2007 untuk pertama kalinya setelah kudeta militer tahun lalu. Pemilu ini dilakukan setelah referendum yang menyepakati konstitusi baru yang disusun oleh pemerintah sementara.

Banyak perubahan yang terjadi pasca disepakatinya konstitusi baru tersebut. Thai Rak Thai (TRT), yang merupakan partai mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, diganti menjadi Partai Kekuatan Rakyat dan politisi veteran sayap kanan, Samak Sundaravej menjadi ketua partai tersebut. Meski Thaksin tetap mendapatkan dukungan rakyat miskin di utara dan barat laut Thailand, namun nampaknya partai ini tidak akan mendapatkan cukup suara untuk meraih suara mayoritas dalam pemilu nantinya.

Partai oposisi utama, yakni Partai Demokrat, berhasil bertahan dalam setahun terakhir ini tetapi dukungan bagi mereka berkurang dalam tahun-tahun terakhir dan tampaknya mereka juga tidak akan berhasil mendapatkan suara mayoritas.

Berdasarkan pengamatan-pengamatan tersebut, pemerintah Thailand berikutnya hampir pasti berbentuk koalisi. Sejak dahulu, pemerintah-pemerintah koalisi di Thailand memiliki reputasi hanya seumur jagung dan sangat korup.

Kerjasama Thailand dan Indonesia

Presiden SBY  dan PM  Thailand Abhisit Vejjajiva, memberi keterangan kepada wartawan usai pertemuan, di Istana Merdeka, hari  Jumat (20/2) sore. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY dan PM Thailand Abhisit Vejjajiva, memberi keterangan kepada wartawan usai pertemuan, di Istana Merdeka, hari Jumat (20/2) sore. (foto: haryanto/presidensby.info)

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Thailand Abhisit Vejjajiva, hari Jumat (20/2) sore memimpin pertemuan bilateral kedua negara, di Istana Merdeka. Pertemuan diadakan di Ruang Jepara usai Presiden SBY menyambut dengan upacara kenegaraan, untuk membahas mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan oleh kedua negara sahabat untuk meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan, investasi, ketahanan pangan, pertanian dan perikanan.

“Selama lima tahun terakhir, tingkat perdagangan antara Indonesia dan Thailand tumbuh sebesar 21 persen setiap tahunnya. Hubungan perdagangan antara kedua negara dari bulan Januari hingga Oktober tahun 2008, tercatat mencapai 8,7 milyar Dolar AS,” ujar Presiden SBY dalam konferensi pers bersama PM Abhisit.

PM Abhisit menyatakan, Thailand akan terus berusaha untuk meningkatkan kerja sama dengan Indonesia di dalam bidang perdagangan. “Walaupun kita mengalami resesi global, namun kami ingin mengembangkan perdagangan antara Indonesia dan Thailand,” jelasnya. Thailand berkomitmen untuk saling berbagi pengalaman agar kedua negara sahabat tersebut dapat berperan serta untuk meningkatkan ketahanan pangan di Asia Tenggara, tambah PM Abhisit.

Dalam pertemuan, Presiden SBY mengusulkan kepada pemerintah Thailand untuk melakukan pengembangan energi alternatif dengan melibatkan sektor swasta. “Mengingat setelah resesi dunia selesai, kemungkinan harga minyak mentah akan melonjak lagi. Dengan kerja sama itu, kita akan mendapatkan keuntungan dari energi alternatif,” kata SBY. Pihak Indonesia dan Thailand juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang ketahanan pangan dan pertanian. “Thailand memiliki teknologi yang tinggi serta memiliki pengalaman yang luas. Thailand termasuk negara yang menghasilkan produk-produk pertanian yang besar, utamanya padi,” lanjut Presiden.

Thailand dan Indonesia memiliki sumber daya kelautan dan perikanan yang besar, oleh karena itu, kedua negara juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang tersebut. “Kami juga menghadapi persoalan yang sama, yaitu illegal fishing. Oleh karena itu, kita sepakat untuk membangun kerja sama yang lebih efektif agar kedua negara mendapatkan keundungan yang setinggi-tingginya,” jelas Presiden SBY. Presiden SBY juga menyampaikan kepada PM Thailand, bahwa saat ini, Indonesia sedang mengembangkan sistem Integrated Fishing Industry untuk mempercepat Memorandum of Understanding (MoU) di bidang perikanan bisa segera diselesaikan.

Dalam pertemuan juga dibicarakan agenda-agenda yang akan dibahas di dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang akan dilaksanakan di Hua Hin, Thailand, tanggal 27 Februari – 1 Maret 2009 mendatang. “Dua agenda penting yang akan dibahas di dalam pertemuan puncak ASEAN antara lain transformasi ASEAN dan kerja sama regional untuk atasi resesi perekonomian global. Kami juga mendiskusikan kerja sama bilateral dan regional untuk menghadapi people trafficking dan kejahatan transnasional lainnya, sehingga bisa diatasi bersama-sama dengan sebaik-baiknya,” kata Presiden.

Di dalam pertemuan bilateral tersebut, Presiden SBY juga mendapatkan penjelasan mengenai keadaan di Thailand Selatan dari PM Thailand, Abhisit. “Kita sepakat untuk terus memelihara komunikasi, konsultasi dan kerja sama dengan sebaik-baiknya. Indonesia menghormati dan mendukung setiap upaya nasional Thailand untuk mengatasi permasalahan di Thailand Selatan,” ungkap Presiden SBY.

Dalam kunjungan dan pertemuan bilateral ini, PM Thailand didampingi Menteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya, Secretary-General to the Prime Minister Niphon Promphan, Permanent Secretary, Ministry of Agriculture and Cooperatives Jarunthada Karnasuta, Advisor to the Prime Minister Kanok Wongtrangan, Deputy Secretary-General to the Prime Minister Panitan Wattanayagorn dan Deputy Secretary-General to the Prime Minister Isra Sunthornvut, serta 19 anggota delegasi lainnya.

Sedangkan Presiden SBY didampingi Menko Polhukkam Widodo AS, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensesneg Hatta Rajasa, Seskab Sudi Silalahi, Menteri Perikanan dan Kelautan Freddy Numberi, Juru Bicara Preside Dino Patti Djalal serta Duta Besar LBBP RI untuk Thailand Muhammad Hatta

Indonesia – Thailand Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Beberapa Bidang

Presiden SBY  dan PM  Thailand Abhisit Vejjajiva, memberi keterangan kepada wartawan usai pertemuan, di Istana Merdeka, hari  Jumat (20/2) sore. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY dan PM Thailand Abhisit Vejjajiva, memberi keterangan kepada wartawan usai pertemuan, di Istana Merdeka, hari Jumat (20/2) sore. (foto: haryanto/presidensby.info)

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Thailand Abhisit Vejjajiva, hari Jumat (20/2) sore memimpin pertemuan bilateral kedua negara, di Istana Merdeka. Pertemuan diadakan di Ruang Jepara usai Presiden SBY menyambut dengan upacara kenegaraan, untuk membahas mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan oleh kedua negara sahabat untuk meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan, investasi, ketahanan pangan, pertanian dan perikanan.

“Selama lima tahun terakhir, tingkat perdagangan antara Indonesia dan Thailand tumbuh sebesar 21 persen setiap tahunnya. Hubungan perdagangan antara kedua negara dari bulan Januari hingga Oktober tahun 2008, tercatat mencapai 8,7 milyar Dolar AS,” ujar Presiden SBY dalam konferensi pers bersama PM Abhisit.

PM Abhisit menyatakan, Thailand akan terus berusaha untuk meningkatkan kerja sama dengan Indonesia di dalam bidang perdagangan. “Walaupun kita mengalami resesi global, namun kami ingin mengembangkan perdagangan antara Indonesia dan Thailand,” jelasnya. Thailand berkomitmen untuk saling berbagi pengalaman agar kedua negara sahabat tersebut dapat berperan serta untuk meningkatkan ketahanan pangan di Asia Tenggara, tambah PM Abhisit.

Dalam pertemuan, Presiden SBY mengusulkan kepada pemerintah Thailand untuk melakukan pengembangan energi alternatif dengan melibatkan sektor swasta. “Mengingat setelah resesi dunia selesai, kemungkinan harga minyak mentah akan melonjak lagi. Dengan kerja sama itu, kita akan mendapatkan keuntungan dari energi alternatif,” kata SBY. Pihak Indonesia dan Thailand juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang ketahanan pangan dan pertanian. “Thailand memiliki teknologi yang tinggi serta memiliki pengalaman yang luas. Thailand termasuk negara yang menghasilkan produk-produk pertanian yang besar, utamanya padi,” lanjut Presiden.

Thailand dan Indonesia memiliki sumber daya kelautan dan perikanan yang besar, oleh karena itu, kedua negara juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang tersebut. “Kami juga menghadapi persoalan yang sama, yaitu illegal fishing. Oleh karena itu, kita sepakat untuk membangun kerja sama yang lebih efektif agar kedua negara mendapatkan keundungan yang setinggi-tingginya,” jelas Presiden SBY. Presiden SBY juga menyampaikan kepada PM Thailand, bahwa saat ini, Indonesia sedang mengembangkan sistem Integrated Fishing Industry untuk mempercepat Memorandum of Understanding (MoU) di bidang perikanan bisa segera diselesaikan.

Dalam pertemuan juga dibicarakan agenda-agenda yang akan dibahas di dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang akan dilaksanakan di Hua Hin, Thailand, tanggal 27 Februari – 1 Maret 2009 mendatang. “Dua agenda penting yang akan dibahas di dalam pertemuan puncak ASEAN antara lain transformasi ASEAN dan kerja sama regional untuk atasi resesi perekonomian global. Kami juga mendiskusikan kerja sama bilateral dan regional untuk menghadapi people trafficking dan kejahatan transnasional lainnya, sehingga bisa diatasi bersama-sama dengan sebaik-baiknya,” kata Presiden.

Di dalam pertemuan bilateral tersebut, Presiden SBY juga mendapatkan penjelasan mengenai keadaan di Thailand Selatan dari PM Thailand, Abhisit. “Kita sepakat untuk terus memelihara komunikasi, konsultasi dan kerja sama dengan sebaik-baiknya. Indonesia menghormati dan mendukung setiap upaya nasional Thailand untuk mengatasi permasalahan di Thailand Selatan,” ungkap Presiden SBY.

Dalam kunjungan dan pertemuan bilateral ini, PM Thailand didampingi Menteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya, Secretary-General to the Prime Minister Niphon Promphan, Permanent Secretary, Ministry of Agriculture and Cooperatives Jarunthada Karnasuta, Advisor to the Prime Minister Kanok Wongtrangan, Deputy Secretary-General to the Prime Minister Panitan Wattanayagorn dan Deputy Secretary-General to the Prime Minister Isra Sunthornvut, serta 19 anggota delegasi lainnya.

Sedangkan Presiden SBY didampingi Menko Polhukkam Widodo AS, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensesneg Hatta Rajasa, Seskab Sudi Silalahi, Menteri Perikanan dan Kelautan Freddy Numberi, Juru Bicara Preside Dino Patti Djalal serta Duta Besar LBBP RI untuk Thailand Muhammad Hatta

Pakaian Tradisional Pria

idak seperti wanita, pria tidak lagi sering memakai pakaian tradisional. The traditional clothing of men was not as elaborate as women’s dress and did not vary much among the different ethnic groups. Pakaian tradisional laki-laki tidak begitu rumit seperti pakaian perempuan dan tidak bervariasi banyak di antara kelompok etnis yang berbeda. Men wore a short version of the chong kraben as a loincloth, made of plain or plaid patterned cotton. Pria memakai versi pendek dari kraben Chong sebagai sebuah cawat, terbuat dari kotak-kotak katun bermotif atau polos. This shortened version of the chong kraben exposed the wearer’s thighs, which were usually tattooed. Versi singkat dari kraben Chong pemakainya terkena paha, yang biasanya tato. Men reserved a silk chong kraben for special occasions such as weddings and ordination ceremonies into the Buddhist monkhood. Pria reserved sutra Chong kraben untuk acara-acara khusus seperti pernikahan dan upacara pentahbisan ke dalam kerahiban Buddhis. A plaid or checked cotton sarong was another lower garment favored by Malay men in the southern region of Thailand. Sebuah kotak-kotak atau sarung kapas diperiksa satu lagi nyamping disukai oleh orang-orang Melayu di wilayah selatan Thailand.

Men did not wear an upper garment on a daily basis, and draped a cloth over one or a both shoulders for special events. Pria tidak memakai pakaian atas setiap hari, dan terbungkus kain di atas satu atau kedua bahu untuk acara khusus. Men of ethnicities from colder climates dressed in cotton shirts with a shoulder cloth for ceremonies and religious activities. Pria etnis dari iklim dingin mengenakan kemeja katun dengan kain bahu untuk upacara dan kegiatan keagamaan. Men also used a plaid cotton cloth or pha khao ma as a sash, bag, belt, head cloth, scarf, and towel. Pria juga menggunakan kain katun kotak-kotak atau pha khao ma sebagai selempang, tas, ikat pinggang, kain kepala, syal, dan handuk. Both sexes carried a shoulder bag that could be plainly or elaborately patterned. Kedua jenis kelamin membawa tas bahu yang dapat dengan jelas atau bermotif rumit. A young woman might create an intricate bag to give to a man as a token of her affection. Seorang wanita muda dapat membuat kantong rumit untuk memberikan kepada manusia sebagai tanda kasih sayang nya.

Pakaian tradisional wanita

lakorn penari berkostum tampil di kuil Lak Muang di Bangkok pada tahun 1995. (KEVIN R. MORRIS / Corbis)
Dosa pha, atau rok tabung, adalah pakaian tradisional lebih rendah untuk perempuan dari berbagai kelompok etnis Thailand dataran rendah. The pha sin consists of three sections: hua sin (head or top), tua sin (body or midsection), and tin sin (foot or border). Dosa pha terdiri dari tiga bagian: dosa hua (kepala atau atas), dosa tua (tubuh atau bagian tengah), dan dosa timah (kaki atau batas). The three sections of the pha sin are either woven in one piece of cloth with patterns differentiating the three sections or are made from two or more pieces of cloth sewn together. Tiga bagian dari dosa pha baik tenunan dalam satu potong kain dengan pola membedakan tiga bagian atau terbuat dari dua atau lebih lembar kain dijahit bersama-sama.The top section is made from plain-woven cotton cloth of various colors. Bagian atas terbuat dari kain katun tenunan polos berbagai warna. The Tai Lue of northern Thailand and the Lao Song Dam of central Thailand use indigo cotton for the top section, while the Tai Yuan living in the north prefer natural or white cotton, sometimes with a strip of red cotton, for this section. The Tai Lue Thailand utara dan Laos Song Dam penggunaan kapas indigo Thailand pusat untuk bagian atas, sedangkan yang hidup Tai Yuan di utara lebih suka katun alami atau putih, kadang-kadang dengan strip kapas merah, untuk bagian ini. The Tai Lao and Khmer use a single piece of material for all three sections of the pha sin ; they distinguish the top section by the absence of motifs. Lao Tai dan Khmer menggunakan satu bagian dari bahan untuk ketiga bagian dari dosa pha, mereka membedakan bagian atas oleh tidak adanya motif.

The midsection is the largest section of the tube skirt. bagian tengah adalah bagian terbesar dari rok tabung. Weavers of the various ethnic groups use a variety of techniques to decorate the midsection, including ikat (tye-dying the thread before weaving it), tapestry, and supplementary warp and weft patterning. Penenun dari berbagai kelompok etnis menggunakan berbagai teknik untuk menghiasi bagian tengah tubuh, termasuk ikat (Tye-sekarat thread sebelum menenun itu), permadani, dan warp tambahan dan pola pakan. The Tai Lao, Lao Khrang, Khmer, and Kui weavers favor weft ikat or mat mii technique, while the Tai Lue employ tapestry and other techniques to create complex patterns. Lao Tai, Lao Khrang, Khmer, dan penenun Kui mendukung ikat pakan atau mii teknik tikar, sedangkan Tai Lue menggunakan permadani dan teknik lain untuk menciptakan pola-pola yang kompleks. The Lao Phuan of Sukothai and Uttaradit provinces weave an overall supplementary warp pattern for the midsection and attach a complicated patterned border to their tube skirt. Para Phuan Lao dari Sukothai dan propinsi Uttaradit menenun pola warp keseluruhan tambahan untuk bagian tengah dan melampirkan perbatasan bermotif rumit untuk rok tabung mereka.

The skirt border is either plainly woven or very elaborate. Perbatasan rok adalah baik jelas tenunan atau sangat rumit. The most intricately patterned border is the tin chok , a border pattern with decorated chok, or discontinuous supplementary weft motifs. The bermotif rumit perbatasan paling adalah tersendat timah, pola perbatasan dengan tersendat dihias, atau terputus-putus motif pakan tambahan. The skirt border is highly valued, and many women of various ethnic groups possess a pha sin tin chok (a pha sin , or tube skirt, decorated with a discontinuous supplementary weft border ) for special occasions. Perbatasan rok sangat dihargai, dan banyak perempuan dari berbagai kelompok etnis memiliki dosa pha tersendat timah (dosa pha, atau rok tube, dihiasi dengan pakan tambahan perbatasan terputus-putus) untuk acara-acara khusus. The Tai Lue prefer a simple border of plain indigo cotton, while the Phu Tai and Lao Song Dam weave a thicker border, approximately five centimeters wide, decorated with supplementary patterns or stripes. The Tai Lue lebih memilih perbatasan sederhana kapas nila biasa, sedangkan Tai Phu dan Lao Song Dam menenun perbatasan lebih tebal, sekitar lima sentimeter lebar, dihiasi dengan pola tambahan atau garis. Some women dress in tube skirts or sarongs with an overall pattern. Beberapa wanita berpakaian dalam tabung rok atau sarung dengan pola keseluruhan. Mature Khmer women of northeast Thailand often wear tube skirts with a checked or plaid pattern. Dewasa Khmer wanita timur laut Thailand sering memakai tabung rok dengan pola diperiksa atau kotak-kotak. Malay women in the south favor batik or wax-resist-dyed sarongs similar to Malay dress of neighboring countries. Melayu perempuan dalam mendukung batik selatan atau sarung wax-resist-dicelup mirip dengan pakaian Melayu dari negara tetangga.

The chong kraben wasthe lower garment traditionally worn by women of central Thailand and Cambodia. Chong rendah wasthe kraben garmen tradisional yang dikenakan oleh wanita Thailand pusat dan Kamboja. Central Thai women used a variety of textiles for the chong kraben including Indian chintz; they also used different types of silk textiles such as silver and gold brocades on silk made locally or from India; local weft ikat silk; and imported Chinese and Cambodian silk. Thailand Tengah perempuan menggunakan berbagai tekstil untuk kain cita kraben Chong termasuk India, mereka juga digunakan berbagai jenis tekstil sutra seperti emas dan perak brokat sutra dibuat secara lokal atau dari India; sutra tenun ikat pakan lokal, dan impor dan Kamboja sutra Cina. The use of an upper garment by women varied until the beginning of the twentieth century. Penggunaan baju atas oleh perempuan bervariasi sampai awal abad kedua puluh. Most women did not wear an upper garment, but wrapped a rectangular cloth, pha sabai , around the breasts or across a shoulder when attending religious or ceremonial functions. Kebanyakan wanita tidak memakai pakaian atas, tetapi dibungkus kain persegi panjang, pha Sabai, sekitar payudara atau di bahu saat menghadiri atau fungsi upacara keagamaan. Prior to the twentieth century, women belonging to ethnic groups originating in colder climates (for example, the Tai Lue, Lao Song Dam, and PhuTai) wore blouses or shirts of indigo or black cotton decorated with silver buttons, embroidery, or appliqué. Sebelum abad kedua puluh, perempuan termasuk kelompok etnis yang berasal dari iklim dingin (misalnya, Tai Lue, Lao Song Dam, dan PhuTai) memakai blus atau kemeja nila atau katun hitam dihiasi dengan tombol perak, bordir, atau appliqu. For special occasions, an elaborately patterned shoulder or breast cloth was added to complete the outfit. Untuk acara-acara khusus, sebuah bahu bermotif rumit atau kain payudara ditambahkan untuk melengkapi pakaian. The Phu Tai pha phrae wa was an outstanding example of a shoulder cloth; this red silk textile is decorated with bands of complex patterns and is approximately three meters long. Tai Phu pha wa Phrae adalah contoh luar biasa dari kain bahu, ini tekstil sutra merah yang dihiasi dengan band-band pola kompleks dan sekitar tiga meter. Women began to wear European-style blouses in the 1900s. Perempuan mulai mengenakan blus bergaya Eropa di tahun 1900.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.